PENGUMUMAN UNTUK PELANGGAN 

PENGIRIMAN TERAKHIR PALADIN SEBELUM LIBUR IDUL FITRI 
TANGGAL 22 JUNI 2017

PENGIRIMAN LIBUR TANGGAL 23 - 27 JUNI 2017

DAN MULAI BERAKTIFITAS KEMBALI TANGGAL 28 JUNI 2017


PALADIN MENGUCAPKAN 
SELAMAT IDUL FITRI 1438 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin 


JENIS JENIS ULAR DI INDONESIA

Jenis jenis ular di indonesia ada beberapa yang familiar kita dengar namun ada beberapa pula yang asing didengar, berikut jenis ular yang ada di Indonesia.

Ular Weling (Bungarus candidus)
Persebaran : Jawa, Sumatera, Bali, Sulawesi



Mereka biasa berdiam di dekat sumber air, seperti sawah, ular ini juga kadang-kadang menggunakan lubang tikus sebagai tempat bersembunyi. Ular ini bersifat pemalu dan biasanya bersembunyi dalam tempat tertutup pada pagi hari, dimana mereka aktif pada malam hari, mereka paling aktif pada jam 9 dan 11, dimana mereka keluar dari persembunyian dan dapat ditemukan di sekitar jalanan atau tepi jalan di sekitar rumput sedang mencari mangsa. Ular ini biasanya tidak bertemperamen agresif, khususnya jika masih pada pagi hari, mereka lebih memilih untuk menutupi kepala mereka dengan buntut mereka daripada mencoba menggigit.


Ular Welang (Bungarus fasciatus)
Persebaran : Jawa, Kalimantan, Borneo, Kepulauan Mentawai, Kepulauan Natuna, Sumatera, Ambon 

Ular welang tersebar luas dan merupakan ular dari genus Bungarus yang paling umum. Menghuni daerah berhutan, rawa-rawa, hutan bakau, sawah dan sekitar pedesaan, ia menyukai daerah kering terbuka yang dekat dengan sumber air. Diketahui memiliki persebaran hingga daerah yang terganggu oleh aktivitas manusia, lebih sering ditemukan pada ketinggian yang rendah, namun kadang-kadang juga ditemukan hingga hutan pegunungan pada ketinggian maksimum 2500m dpl. Ular nokturnal dan hidup di tanah. Pemalu dan tidak agresif pada siang hari, ia menyembunyi di gundukan rayap, bawah kayu atau batu dan liang yang dibuat oleh hewan pengerat. Kebanyakan gigitan oleh ular terjadi pada malam hari, saat seseorang tidak sengaja menginjaknya karena tidak melihatnya. 

Ular Kepala Merah / Red Headed Krait (Bungarus flaviceps)
Persebaran : Bangka, Sumatera, Jawa, Billiton, Kalimantan

Ular Kepala Merah adalah spesies langka yang menghuni hutan dataran rendah, perbukitan dan daerah pegunungan rendah di bawah ketinggian 900 meter, ular ini jarang sekali dapat ditemukan di dekat tempat tinggal manusia. Tubuh bagian bawah berwarna putih pucat. Kepala agak tumpul berbeda dari tubuh, dan matanya relatif kecil. Ular ini merupakan salah satu ular paling berbisa yang memiliki bisa neurotoksik kuat yang menyerang sistem saraf yang dapat hampir pasti menyebabkan kematian jika tidak ditangani. Ular ini merupakan ular yang sangat langka sehingga pertemuan dengan ular ini jarang, dimana habitat utama ular ini di hutan tertutup dan jarang menjelajah ke dekat tempat tinggal manusia. Kasus gigitan oleh ular ini sangat jarang terjadi. 


Ular Anang / King Cobra (Ophiophagus hannah)
Persebaran : Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Bangka, Bali, Kepulauan Mentawai dan Kepulauan Riau. 

Ular ini dapat mencapai hingga ukuran sekitar 6 meter, ini adalah ular berbisa terbesar di dunia. Sebuah gigitan dari ular ini dapat menyebabkan kematian pasti jika tidak ditangani dengan cepat. Ular ini memiliki sifat pemalu dan lebih memilih menghindar konfrontasi dengan manusia sehingga ertemuan dengan manusia cukup jarang oleh ular ini. Ular cerdas ini dapat ditemukan di berbagai habitat seperti hutan murni, hutan bakau, hutan terganggu, lahan pertanian, persawahan dan lingkungan pemukiman hingga ketinggian 2000m dimana ia memburu mangsa utamanya yaitu ular lain, terutama ular tikus. Ophiophagus memiliki arti 'pemakan ular. Walaupun terutama memangsa ular, ia juga akan memangsa kadal dan biawak kecil.


Ular Kobra Sumatra / Sumatran Spitting Cobra (Naja sumatrana) 
Persebaran: Sumatera

Ular ini sering ditemukan pada semak-semak, kadang-kadang juga akan masuk rumah warga karena sedang mencari mangsa tikus. Saat tidak aktif, ular ini akan mengumpat di daerah tertutup, seperti taman tak terurus, di sekitar selokan dan tempat teduh lainnya. Ular ini harus ditangani dengan sangat berhati-hati.Semburan bisa tersebut dapat menyebabkan luka permanen kepada mata korban. kasus paling buruk akan menyebabkan buta permanen. Warna tubuh ular ini sangat bervariasi dari setiap tingkat warna coklat hingga hitam, namun warna yang paling sering ditemukan adalah hitam, individu muda biasanya memiliki pola pucat pada daerah tenggorokan.


Ular Sendok Jawa (Naja sputatrix)
Persebaran: Jawa, Lombok, Sumatera, Flores, Komodo, Bali, Alor, Sulawesi, Lomblen

Ular Sendok Jawa merupakan ular elapid berbisa tinggi yang cukup sering ditemukan pada ketinggian rendah di daerah terganggu oleh aktivitas manusia hingga ketinggian 600m dpl. Biasanya ular ini akan menghindari konfrontasi dengan manusia, namun ular ini akan melawan jika terpaksa dengan menegakkan tubuhnya, memperlihatkan "kerudungnya" dan membuat suara mendesis jika merasa terancam. Sifat defensif ini lebih sering dilakukan oleh individu dewasa. Jika sang penganggu tidak segera memundurkan diri, maka ular kobra ini akan menyemburkan bisa kepada matanya, semburan bisa oleh ular ini diketahui tepat sasaran. Ular ini dapat hidup di daerah dekat dengan tempat tinggal manusia, habitat ideal bagi ular ini sangat beragam mulai dari taman dekat kota, daerah pedesaan dan sekitar selokan.


Ular Putih (Micropechis ikaheka)
Distribusi : Irian Jaya

Ular terestrial ini kadang-kadang dapat ditemukan dalam jumlah cukup banyak pada beberapa daerah tertentu seperti di sekitar perkebunan kelapa, dimana ular ini memanfaatkan tumpukan batok kelapa untuk digunakan sebagai habitat utama mereka, ini juga berarti bahwa para pekerja di kebun kelapa akan menghadapi resiko tergigit oleh ular berbisa tinggi ini.Ular ini dapat bertemperamen agresif sehingga harus ditangani dengan sangat hati-hati. Ular ini memiliki sifat fossorial dimana ia biasa mengubur dirinya di bawah tanah untuk menyembunyikan diri atau beristirahat. Mangsa ular ini merupakan kodok, tikus, kadal dan ular lain, ular ini bersifat kanibal. Ia aktif pada malam hari. Garis-garis tebal sering berujung dengan warna coklat gelap hingga coklat-hitam.


Eastern Brown Snake (Pseudonaja textilis) 
Persebaran  : Papua Nugini

Ular ini paling sering ditemukan di padang rumput terbuka dan daerah berhutan. Mangsa utamanya merupakan mamalia kecil seperti tikus.Ia telah berkembang untuk sering meendiami tempat yang memiliki banyak populasi tikus seperti dekat peternakan dan tempat tinggal manusia.Saat ular tidak aktif, ia biasa bersembunyi dibawah kayu atau batu besar, dalam celah di tanah atau liang hewan yang sudah tak terhuni. Ular ini memangsa pada hewan berbagai macam dari kodok, reptil, burung dan mamalia khususnya tikus yang dianggap hama. Ular berukuran sedang ini memiliki tubuh yang cukup ramping, kepala kecil. Warna badan ular ini bervariasi dari berbagai rona coklat, hitam, kastanye atau oranye gelap yang seragam. Warna kepala individu lebih gelap mungkin lebih pucat dibandingkan sisa tubuhnya. 


Coastal Taipan (Oxyuranus scutellatus)
Persebaran : Papua Nugini Selatan (Oxyuranus scutellatus canni), Irian jaya

Ular ini ditemukan di daerah pesisir tropis, hutan kering dan lembab, hutan musim dan padang rumput alami maupun yang dibuat oleh manusia. Daerah-daerah yang memiliki populasi tikus berlimpah juga merupakan tempat ideal untuk ular ini. Ia hidup di tanah, aktif pada siang hari, khususnya saat suhu hangat. Kadang-kadang ular ini juga dapat ditemukan aktif pada malam hari jika cuacanya panas. Biasa bersembunyi di liang hewan tak terhuni, kayu berlubang dan vegetasi lebat.Mangsa utamanya merupakan hewan berdarah hangat seperti tikus, tupai, burung dan hewan pengerat lainnya. 

Ular Belang Maut (Acanthophis laevis)
Persebaran : Irian Jaya, Seram dan Tanimbar.

Ular ini berlimpah populasinya di daerah-daerah yang memiliki banyak tempat berembunyi seperti vegetasi lebat atau tumpukan dedaunan yang sering dijadikan tempat bersembunyi bagi ular ini. Ia juga dapat ditemukan pada padang rumput, perkebunan kopi dan taman dibudidayakan.Ular ini juga dapat ditemukan di padang rumput, perkebunan kopi dan taman dibudidayakan, namun juga sering ditemukan di daerah yang dekat dengan tempat tinggal manusia hingga ketinggian 1800m. Ular ini aktif pada malam hari, memangsa pada kadal tanah, burung dan tikus kecil. Ular ini memiliki badan yang gemuk, lebih besar dari ular beludak yang  hidup di tanah biasanya.


Ular Picung (Rhabdophis subminiatus)
Persebaran : Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi

Ular ini memiliki warna leher merah mencolok, yang merupakan ciri khas ular ini. Dapat tumbuh hingga 1.3m, ular bertaring belakang ini dulu diketahui  sebagai spesies yang berbisa rendah. Namun telah diketahui setelah beberapa kasus gigitan bahwa ular ini ternyata berbisa tinggi gigitannya dan dapat mengancam nyawa manusia. Dengan fakta bahwa ular ini sering ditemukan, sehingga membuatnya menjadi lebih berbahaya. Dengan penampakannya yang terlihat menarik dan ukurannya yang biasa kecil, ular ini dapat membahayakan orang-orang yang tidak sadar akan  kemampuan bisa tinggi yang dimiliki oleh ular ini.Ular Picung / Red Necked Keelback (Rhabdophis subminiatus)


Ular Cabai Besar (Calliophis bivirgatus / Calliophis bivirgata)
Distribusi : Sumatera, Kalimantan, Bangka, Kepulauan Lingga, Nias, Kepulauan Mentawai, Kepulauan Riau 

Ular Cabai Besar adalah ular langka yang indah, sangat berbisa, dan merupakan elapid bertaring depan. Ular ini mendiami hutan primer dan sekunder, di dataran rendah dan daerah pegunungan bawah rendah hingga ketinggian 500m. Seperti elapidae lainnya di Asia Tenggara, sumber makanan utamanya adalah ular lain. Ular ini berdiam di antara dedaunan mati di lantai hutan, dan hidup eksklusif di tanah, ular ini biasa muncul saat  pertengahan pagi, terutama sehabis hujan malam hari telah terjadi, setelah tumpukan daun mati telah basah. Biasanya ular ini ditemui saat melintasi jalan hutan. Ular ini dapat gampang dikenali oleh kepalanya, buntutnya dan perutnya yang berwarna merah.


Ular Cabai Kecil (Calliophis intestinalis)
Persebaran : Jawa, Kepulauan Mentawai, Sumatera


Ular ini dapat ditemukan di hutan lembab, sawah, kebun desa dan kadang-kadang di taman rimbun yang tak terurus. Ular ini memiliki sifat yang pemalu sehingga jarang terlihat walaupun sebernarnya populasi ular ini cukup melimpah. Ular ini hidup penuh di tanah, biasa memangsa pada ular kecil lainnya, khususnya Ular Kawat, namun juga akan memangsa kodok. Ia menyukai habitat yang tertutup dan lembab, tempat-tempat gelap yang lembab atau berisi air memiliki potensi untuk menjadi sarang bagi ular ini. Ular ini dikenal dari garis kemerahan-coklat pada bagian atas tubuhnya, bagian bawah buntutnya berwarna merah. Di setiap sisi tubuh bagian bawahnya terdapat sebuah garis pucat.

Indonesian Pit Viper (Parias hageni)
Persebaran: Sumatera

Ular ini hidup di hutan hujan dataran rata dan bukit berhutan pada dataran rendah hingga ketinggian 1000m. Mereka biasa ditemukan setelah hujan saat malam hari. Aktif pada malam hari, hidup terutama di pepohonan namun juga dapat kadang-kadang ditemukan di semak-semak rendah dan dasar hutan. Ular ini memangsa pada burung, tikus dan mamalia kecil. Ular ini biasanya tidak bertemperamen agresif dan jarang cepat menggigit, tidak seperti kebanyakan Ular Beludak lainnya. Ular ini ditemukan di Sumatera.

Ular Bangkai Laut (Trimeresurus albolabris)
Persebaran: Sumatera


Ular beludak ini dapat sering ditemukan di pepohonan bambu, dimana ular ini biasanya aktif pada malam hari dan dapat ditemukan di tanah saat memburu mangsanya. Ular ini berbisa tinggi dan dapat menggigit dengan sangat cepat, seringkali ular ini tidak terlihat oleh para pejalan di perkebunan desa sehingga ular ini sering menyebabkan gigitan, Walaupun gigitan dari ular ini jarang fatal, ular ini masih sangat berbahaya bagi manusia. Ular ini dapat diidentifikasi dengan tubuhnya yang hijau polos, dengan garis putih pada bibirnya dan ujung ekornya yang berwarna merah.Ular ini hidup di hutan hujan dataran rata dan bukit berhutan pada dataran rendah hingga ketinggian. 

Bornean Palm Pit Viper (Trimeresurus borneensis)
Persebaran: Sumatera, Kalimantan, Borneo


Ular ini biasa ditemukan beristirahat pada vegetasi rendah, semak dan dapat ditemukan setinggi 3m di atas tanah. Walaupun buntut ular ini kuat dan dapat memegang pada cabang atau ranting pohon, ular ini biasa ditemukan di dasar lantai hutan. Ular ini berbisa tinggi dan dapat menggigit dengan sangat cepat, dan juga dapat sulit dilihat jika tersamar di sekitar vegetasi. Bisa ular ini terutama terdiri dari haemotoksin, gigitan dari ular ini menyebabkan langsung rasa sakit seperti kebakar dan pembengkakan besar pada daerah gigitan. Hanya sedikit gigitan telah terjadi dan tidak pernah terjadi kematian.

Shore Pit Viper (Trimeresurus purpureomaculatus)
Persebaran: Sumatera

Ular ini adalah spesies yang dapat sering ditemukan di sekitar daerah pepohonan pada tepi pantai dan hutan bakau. Ular ini memiliki kecenderungan untuk langsung menggigit apapun yang mendekatinya tanpa memberikan pertanda dan memiliki temperamen yang tidak terduga. Ular ini harus didekati dan diperlakukan dengan hati-hati karena bisa haemotoksin yang dimiliki ular ini sangat kuat yang dapat menyebabkan kesakitan ekstrim dan bahkan kematian. Ular ini aktif pada malam hari, pada siang hari dapat ditemukan beristirahat di atas cabang pohon rendah hanya sekitar 1 hingga 2 meter di atas tanah. Warna tubuh ular ini dapat bervariasi, dari abu-abu gelap polos, ungu-coklat gelap atau coklat ringan dengan beberapa pola pada tubuhnya.

Ular Tanah (Calloselasma rhodostoma)
Persebaran: Jawa

Ular ini sangat berbisa dan dapat menggigit dengan sangat cepat, juga dapat sulit dilihat jika tersamar di sekitar dedaunan mati. Gigitan dari ular ini terkenal sebagai 'pembusuk jari' karena jika anda tergigit di jari, kemungkinan besar anda akan harus amputasi jari tersebut. Kebanyakan gigitan akan menyebabkan kematian jika tidak segera pergi ke rumah sakit. Mereka merupakan ular pemalas yang tidak akan bergerak atau kabur saat ada orang yang berjalan ke arah mereka, melainkan mereka akan hanya diam di tempat dan menggigit orang yang mendekatinya, setelah menggigit mereka biasanya masih akan berdiam di tempat yang sama. Ular ini merupakan penyebab kasus gigitan terbanyak di seluruh daerah penyebarannya.

Ular Bandotan Pohon (Trimeresurus puniceus)
Persebaran: Jawa, Sumatera, Kepulauan Natuna, Mentawai, Simalur 

Ular ini berbisa tinggi dan dapat menggigit dengan sangat cepat, dan juga dapat sulit dilihat jika tersamar di sekitar vegetasi. Bisa ular ini terutama terdiri dari haemotoksin, gigitan dari ular ini menyebabkan langsung rasa sakit seperti kebakar dan pembengkakan besar pada daerah gigitan. Hanya sedikit gigitan telah terjadi dan tidak pernah terjadi kematian. Warna tubuh ular ini dapat beragam, dapat berwarna abu-abu, coklat atau kemerahan dengan pola bulat-bulat atau garis-garis melintang. Ular ini tersebar di Jawa, Sumatera, Kepulauan Natuna, Mentawai dan Simalur. 

Bornean Keeled Green Pit Viper (Tropidolaemus subannulatus)
Persebaran : Belitung, Kalimantan, Buton, Kepulauan Sangihe, Sulawesi

Ular ini hampir sepenuhnya hidup di pepohonan, dapat ditemukan di vegetasi dari ketinggian 2m hingga 20m di atas kanopi hutan. Ular ini memangsa pada burung dan hewan pengerat (tikus pohon). Pewarnaan dalam individu muda atau jantan sama, mereka berwarna hijau terang pada bagian atas dan perutnya berwarna kuning-kehijauan, tubuhnya bermotif garis-garis pucat berwarna dasar putih yang dapat berujung berwarna biru atau merah atau dua duanya. Terdapat sebuah garis berwarna putih dan merah di belakang matanya. Ular ini adalah spesies yang dapat sering ditemukan di sekitar daerah pepohonan pada tepi pantai.



Ular Bandotan Candi / Ular Wagler (Tropidolaemus wagleri)
Persebaran: Jawa

Ular Bandotan Candi, atau Ular Wagler mungkin adalah ular beludak yang dapat paling sering ditemukan di Asia Tenggara. Ular ini mendiami hutan dataran rendah, baik primer atau sekunder, dan di beberapa daerah pesisir yang ada di sekitar hutan bakau hingga ketinggian 1200m. Semua ular beludak berbisa, namun Wagler's Pit Viper umumnya tidak dianggap agresif. Di alam, ular ini paling mudah diidentifikasi oleh kepala segitiga mereka yang sangat khas dan beda dengan tubuhnya. Wagler's Pit Viper umumnya ditemukan beristirahat di vegetasi rendah, tetapi pencarian teliti juga dapat menemukan spesies di tingkat pertengahan kanopi banyak meter di atas tanah.

Broad Banded Temple Pit Viper (Tropidolaemus laticinctus)
Persebaran: Sumatera

Ular ini endemik pada Pulau Sulawesi di hutan hujan lembab pada dataran rendah hingga perbukitan pada ketinggian paling rendah 550m. Corak pada tubuh ular ini sangat mencolok dan khas, dengan corak-corak kompleks yang berwarna colat gelap hingga kemerahan serta corak-corak hijau terang dengan keputihan pada ujung masing-masing corak. Daerah ventral ular ini memiliki corak cincin putih yang berwarna kemerahan hingga keunguan dan menciptakan sebuah garis pada bagian tengah ventral yang berwarna putih. 

Ular Bandotan Puspa (Daboia siamensis)
Persebaran : Jawa Timur, Komodo, Flores, Lomblen, Endeh

Ular adaptif ini dapat ditemukan di berbagai macam habitat dan tidak memiliki habitat khusus dalam daerah persebarannya, namun ular ini paling sering ditemukan di ladang rumput terbuka, semak belukar, hutan sekunder, hutan perkebunan dan dekat peternakan dimana populasi tikus berlimpah. Ular ini hidup di tanah dan dapat memanjat pohon pendek, lebih menyukai tanah datar dan udara kering, ia cenderung menghindari habitat hutan lebat dan lembab. Ular ini aktif pada malam hari, ia akan memangsa pada hewan pengerat seperti tikus, tupai dan kucing kecil, namun ia juga akan memangsa kadal dan kodok.

Sunda Pit Viper (Trimeresurus insularis)
Persebaran : Adonara, Alor, Bali, Flores, Komodo, Lombok, Padar, Rinca, Romang, Roti, Sumba, Sumbawa, Timor, Wetar, Java), Timor-Leste 

Ular ini menghuni hutan pada ketinggian hingga 880m dpl. Aktif pada malam hari, terutama ditemukan di pohon hingga ketinggian 15m di atas tanah. Memangsa pada kodok, tikus, cicak dan kadal. Tubuh bagian atas ular ini biasanya hijau terang, kadang-kadang zaitun atau biru, dengan belang-belang gelap. Buntut berujung warna merah. Bagian bawah badan hijau-kekuningan, putih-kehijauan atau biru muda. Mata berwarna coklat atau merah. Ular ini melahirkan 11 - 17 individu muda, berukuran 14 - 19cm.

Sumatran Pit Viper (Parias sumatranus)
Persebaran : Borneo, Simalur = Simeulue, Nias, Mentawi, Sumatera, Bangka, Belitung


Ular ini hidup di hutan tropis dataran rendah dan perbukitan hingga ketinggian 1000m dpl. Ia aktif pada malam hari dan biasa ditemukan di pohon namun juga dapat sering ditemukan pada tanah. Mangsanya merupakan kodok, burung kecil dan hewan mamalia kecil. Ular ini merupakan spesies yang cukup sering ditemukan pada daerah persebarannya dan hidup baik di habitat alaminya maupun dekat tempat tinggal manusia. Dorsal ular ini hitam dengan garis-garis hitam khususnya pada ular dewasa, sisik pada dahinya diujungi warna hitam, buntut berwarna merah-coklat yang lebih terang pada individu muda, daerah ventral hijau-kekuningan.

Ular Laut Erabu / Banded Sea Krait (Laticauda colubrina)
Persebaran : Borneo, Jawa, Bali

Ular Laut Belang merupakan jenis ular yang paling tersebar luas dari marga Laticauda. Ia ada merupakan spesies ular amfibi yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di laut, tetapi datang ke darat untuk bereproduksi, ia merupakan salah satu jenis ular laut yang menghabiskan cukup banyak waktunya di daratan. Dalam adaptasi gaya hidup semi-akuatik, Ular Laut Belang telah berkembang morfologi yang khusus. Ular ini memiliki sisik ventral dan bentuk tubuh silinder yang khas dari ular darat, sebuah fitur yang tidak dimiliki oleh ular laut asli, hal ini membantu dalam menjelajahi darat dan di pohon-pohon rendah. Sama seperti ular laut lainnya, ekornya berbentuk dayung, yang memberikan gerakan cepat di air.

Blue Sea Krait (Laticauda laticaudata)
Persebaran : Sumatera, Borneo, Jawa, Bali


Ular berukuran sedang ini biasa ditemukan di terumbu karang, hutan bakau, laut terbuka dan pulau-pulau kecil. Ular ini aktif baik pada siang maupun malam hari, ia memangsa terutama pada ikan ramping dan belut, biasanya ditemukan di perairan dangkal pada kedalaman 0 - 15m, juga pernah ditemukan dekat dengan badan air tawar, ular ini dilaporkan pernah ditemukan hingga kedalaman 80m. Sering terlihat beristirahat di pulau kecil berbatu, bebatuan di darat merupakan habitat bersembunyi utama ular ini saat di darat.

Black Banded Sea Krait (Laticauda semifasciata)
Persebaran : Sumatera, Borneo, Jawa, Bali

Ular berbisa tinggi ini dapat diidentifikasi dengan belang-belang hitam atau coklat tua khas yang mengalir sepanjang tubuhnya. Terdapat warna biru, abu-abu atau kehijauan-warna yang menyelingi belang-belang pada bagian atas tubuh yang menyatu dengan warna kuning pada bagian setengah bawah tubuh, bagian bawah ular ini abu-abu putih atau biru pucat. Pada ular lebih tua, belang-belang memudar sedikit dan warnanya menjadi lebih ringan. Spesies ini memiliki kepala coklat gelap dengan tanda putih atau kekuningan melengkung di atas.

Slender Sea Snake (Hydrophis gracilis)
Persebaran : Sumatera, Borneo, Jawa

Ular ini biasanya ditemukan pada kawasan perairan yang tidak jauh dari pesisiran pantai, ia ditemukan di perairan rawa-rawa bakau dan perairan terumbu. Terutama menghuni perairan dalam pada dasar laut yang biasanya lumpur atau pasir hingga kedalaman 30m, dapat ditemukan hingga sejauh 5km dari pesisiran pantai. Ular ini umum ditemukan di perairan Jawa Utara. namun biasanya cukup jarang ditemukan karena persebarannya  tidak padat. Ular ini memangsa khusus pada belut.


Ular Laut Karang / Ornate Reef Snake  (Hydrophis ornatus) 
Persebaran : Samudera Hindia

Ular Laut Karang adalah ular laut yang memiliki ketebalan kepala seragam dengan tubuhnya, namun bagian depan tubuhnya berbentuk silinder sementara bagian belakang tampil lebih gepeng dan lebih berat. Sebuah fitur karakteristik dari ular laut adalah ekor seperti dayung yang gepeng secara vertikal yang cukup panjang. Individu muda ular ini berwarna keabu-abuan, biru - abu-abu atau zaitun muda hingga hampir putih keseluruhan, dengan motif 350 sampai 60 belang lebar yang berwarna gelap dan bintik-bintik besar di sisi. Belang-belang lebar dipisahkan oleh  sela-sela kecil. Sedangkan warna dasar dewasa Ular Laut Karang  sama seperti di muda, namun tanda-tanda gelap mungkin menjadi kurang mencolok atau bahkan sama sekali tidak ada pada individu dewasa.Ular berbisa tinggi ini dapat diidentifikasi dengan belang-belang hitam

Ular Laut Kuning / Yellow Sea Snake (Hydrophis spiralis) 
Persebaran : Sulawesi

Ular terpanjang dari ular laut yang asli ( Hydrophis ), ular laut kuning memiliki tubuh kuning atau hijau kekuningan mencolok, ditandai dengan 30 sampai 60 cincin hitam sempit. Kepala juga berwarna  kuning pada individu dewasa, tetapi pada individu muda warnanya kehitaman-kuning, dengan pola berbentuk tapal kuda di bagian atas. Sementara sedikit yang diketahui tentang biologi spesies ini, seperti ular laut lainnya ular ini telah beradaptasi dengan baik untuk hidup di lingkungan laut , menyelesaikan siklus hidup seluruh di air , dan tidak pernah datang ke tepi pantai.